MAKNA TAAT KEPADA RASUL

Monday, 1 April 2013
Allah berfirman dalam Al Qur’an (5:92) :

5:92. Dan taatlah kamu kepada Allah dan taatlah kamu kepada Rasul-(Nya) dan berhati-hatilah. Jika kamu berpaling, maka ketahuilah bahwa sesungguhnya kewajiban Rasul Kami, hanyalah menyampaikan (amanat Allah) dengan terang.

Kita semua sudah memahami bahwa manusia wajib taat kepada Allah karena Allah adalah Tuhan yang wajib disembah dan Tuhan yang menciptakan, memiliki, serta menguasai semua yang ada di seluruh alam semesta. Lantas, bagaimana dengan taat kepada Rasul Allah? Makalah ini hendak membahas permasalahan tersebut. Terjemahan Al Qur’an yang digunakan dalam tulisan ini adalah terjemahan Departemen Agama RI dalam freeware Al Qur’an Digital versi 2. 1.


KEDUDUKAN DAN TUGAS MUHAMMAD

Kedudukan Muhammad tertulis dalam Al Qur’an :


33:40. Muhammad itu sekali-kali bukanlah bapak dari seorang laki-laki di antara kamu, tetapi dia adalah Rasulullah dan penutup nabi-nabi. Dan adalah Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.


Muhammad adalah seorang Rasul (Utusan) Allah dan seorang Nabi. Sebagai Rasul Allah, beliau diutus oleh Allah untuk menjadi seorang saksi, pemberi peringatan, dan pembawa berita gembira (48:8).


48:8. Sesungguhnya Kami mengutus kamu sebagai saksi, pembawa berita gembira dan pemberi peringatan,


Selain menjadi Rasul Allah, Muhammad adalah seorang Nabi. Lantas, apakah tugas seorang Nabi? Jawabannya ada dalam Al Qur’an (33:45).


33:45. Hai Nabi, sesungguhnya Kami mengutusmu untuk jadi saksi, dan pembawa kabar gembira dan pemberi peringatan,



Ternyata tugas Rasul Allah dan Nabi adalah sama yaitu sebagai saksi, pembawa berita gembira, dan pemberi peringatan. Terlihat jelas di sini bahwa Rasul Allah dan Nabi merupakan dua sebutan untuk satu orang yang sama. Rasul Allah merupakan sebutan yang menjelaskan kedudukannya di sisi Allah yaitu sebagai seorang utusan Allah sedangkan Nabi merupakan sebutan atau panggilan untuk manusia yang menjadi Rasul Allah. Allah memanggil Muhammad dengan sebutan ”Nabi” (8:64) atau ”Rasul” (5:67).


8:64. Hai Nabi, cukuplah Allah (menjadi Pelindung) bagimu dan bagi orang-orang mukmin yang mengikutimu.


5:67. Hai Rasul, sampaikanlah apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu. Dan jika tidak kamu kerjakan (apa yang diperintahkan itu, berarti) kamu tidak menyampaikan amanat-Nya. Allah memelihara kamu dari (gangguan) manusia. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir.



DENGAN APA RASUL MEMBERI PERINGATAN?


Nabi Muhammad memberi peringatan kepada manusia dengan wahyu (21:45).


21:45. Katakanlah (hai Muhammad): "Sesungguhnya aku hanya memberi peringatan kepada kamu sekalian dengan wahyu dan tiadalah orang-orang yang tuli mendengar seruan, apabila mereka diberi peringatan"


Oleh karena yang digunakan dalam memberi peringatan adalah wahyu (21:45), taat kepada Rasul Allah adalah sama dengan taat kepada Allah (4:80). Artinya, Rasul Allah mempunyai ajaran yang sama persis dengan ajaran Allah. Hal ini ditegaskan dalam ayat 4:80 bahwa cara mewujudkan ketaatan kepada Allah adalah dengan cara taat kepada Rasul Allah. Konsekuensinya, cara mewujudkan ketaatan kepada Rasul Allah adalah dengan beriman kepada wahyu yang diturunkan kepada Rasul Allah. Selain itu, ayat 4:80 menunjukkan bahwa Rasul Allah tidak berhak membuat perintah dan larangan sendiri kepada manusia.

4:80. Barangsiapa yang mentaati Rasul itu, sesungguhnya ia telah mentaati Allah. Dan barangsiapa yang berpaling (dari ketaatan itu), maka Kami tidak mengutusmu untuk menjadi pemelihara bagi mereka.

Nabi Muhammad tidak pernah menambah, mengurangi, atau mengganti wahyu yang digunakan untuk memberi peringatan (10:15).


10:15. Dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat Kami yang nyata, orang-orang yang tidak mengharapkan pertemuan dengan Kami berkata: "Datangkanlah Al Qur’an yang lain dari ini atau gantilah dia." Katakanlah: "Tidaklah patut bagiku menggantinya dari pihak diriku sendiri. Aku tidak mengikut kecuali apa yang diwahyukan kepadaku. Sesungguhnya aku takut jika mendurhakai Tuhanku kepada siksa hari yang besar (kiamat)."

Nabi tidak menciptakan ajaran agama berdasarkan hasil pemikiran sendiri. Nabi diperintahkan untuk hanya mengikuti semua yang diwahyukan kepadanya (33:2 dan 10:109). Jika Nabi mengikuti selain wahyu yang diterimanya beliau akan mendapat azab yang besar (10:15). Orang yang menganggap bahwa Nabi Muhammad memberikan ajaran yang tidak ada dalam Al Qur’an secara tidak disadari telah menganggap Nabi sebagai tuhan selain Allah. Oleh karena itu, ajaran Nabi Muhammad adalah Al Qur’an itu sendiri dan tidak ada yang selainnya.


33:2. dan ikutilah apa yang diwahyukan Tuhan kepadamu. Sesungguhnya Allah adalah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.



10:109. Dan ikutilah apa yang diwahyukan kepadamu, dan bersabarlah hingga Allah memberi keputusan dan Dia adalah Hakim yang sebaik-baiknya.



Wahyu yang digunakan untuk memperingatkan tersebut disampaikan kepada orang lain dalam bentuk Al Qur’an berbahasa Arab (42:7). Pada jaman Nabi, Al Qur’an disampaikan secara bertahap dan belum ditulis dalam bentuk buku. Pada jaman sekarang, Al Qur’an tersebut dapat kita baca dalam bentuk buku atau dalam bentuk tayangan di layar monitor komputer. Ayat 42:7 menegaskan bahwa semua wahyu yang diterima Nabi Muhammad untuk memberi peringatan terdapat dalam Al Qur’an. Nabi menuliskan wahyu yang diterimanya hanya dalam satu kitab saja yakni Al Qur’an.


42:7. Demikianlah Kami wahyukan kepadamu Al Qur’an dalam bahasa Arab, supaya kamu memberi peringatan kepada ummul Qura (penduduk Mekah) dan penduduk (negeri-negeri) sekelilingnya serta memberi peringatan (pula) tentang hari berkumpul (kiamat) yang tidak ada keraguan padanya. Segolongan masuk surga, dan segolongan masuk Jahannam.


Sampai di sini dapat disarikan bahwa Nabi Muhammad mendapat tugas yang sangat jelas dari Allah yaitu menjadi saksi, pembawa berita gembira, dan pemberi peringatan. Tugasnya hanya itu. Dalam menjalankan tugasnya beliau hanya mengikuti wahyu yang diterimanya berupa Al Qur’an berbahasa Arab sehingga yang disampaikan oleh Nabi Muhammad dalam memberi peringatan pada waktu itu persis sama dengan Al Qur’an yang dapat kita baca sekarang ini.

No comments:

Jangan Lupa Like Facebook Kami
×
Back To Top